Tampilkan postingan dengan label keindahan alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keindahan alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

From B29 with LOVE

Drama B-29

Kesekian kali, lalu apa yang spesial?
Semilir Angin sepoi dingin yang kerap membelai manja setiap wisatawan yang datang?
atau hamparan awan putih bak permadani surga terhampar diantara bukit bukit hijau keabu-abuan?
ah, bukan itu. 

selalu ada yang sama dan berbeda dalam setiap perjalanan. seperti dia yang sesekali muncul dalam setiap penggalan cerita, hingga akhirnya kami berhenti untuk sebuah cerita yang panjang, yang mungkin pernah hampir mati, tanpa benar-benar pernah mati.

ah sudahlah, kenapa bercerita tentang dia, bukankah puncak ini (re:B29) jauh lebih menawan untuk diceritakan? puncak yang selalu dan akan selalu bersimpuh dengan anggun, menunggu penikmatnya yang datang silih berganti. menampakkan keelokan yang tak pernah pudar memikat siapapun yang melihatnya.
tapi tunggu dulu, mungkin dia lebih indah. 

BERSAMBUNG

Rabu, 03 Juni 2015

BANANA 'GOWES' TO TUMPAK SEWU (COBAN SEWU)



BANANA 'GOWES' TO TUMPAK SEWU (COBAN SEWU) 
Persiapan meluncur dari Kantor Kecamatan Candipuro

Health, Fun, & Entertain....
yo yo yo mari biasakn Hidup sehat :D 
Momen pertama Gowes dengan jarak tempuh dan medan yang waw!!!. Mendengar tentang ditemukannya spot wisata baru di Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang telah menarik perhatian tim Banana Gowes untuk mengibarkan bendera di tempat yang disebut sebut sebagai "Niagaranya Lumajang" itu. 

Di bawah arahan Pak Ketum yang notabene adalah Camat Candipouro, pada hari Jumat itu tim bergegas mempersiapkan diri sejak pukul 05.00 WIB. Armada berupa sepeda MTB sendiri telah bersiap sejak Kamis malam. Sebelumnya beberapa anggota tim telah melakukan survei rute yang akan ditempuh dengan mempertimbangkan medan dan keterjangkauan kendaraa. Setelah semua informasi dan persiapan dirasa telah optimal, maka dengan semangat berkobar kobar kami mulai perjalanan.

1 kilo, 2 kilo 3 kilo... hahh, baru sadar ternyata untuk menuju ke Tumpak Sewu pertama tama kita harus mencapai perbatasan antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, karena disanalah pintu masuk untuk menikmati air terjun ini tepat dari sisi atasnya. Nah, adapun kondisi dari Kantor Kecamatan Candipuro menuju tempat dimaksud merupakan tanjakan tiada akhit :(... sudah akrab ditelinga masyarakat mengenai Piket Nol. Jalan berupa pegunungan yang berliku-liku dan jalan itu harus kami tempuh dengan mengayuh sepeda MTB. Yah walaupun dibelakang kami telah siap sebuah Isuzu Panther ber-Plat Nomor merah yang setia menanti setiap anggota Tim yang sudah mengibarkan bendera putih.
Beberapa kilo berlalu, hingga ada beberapa anggota yang mengibarkan bendera putih tanda tak mampu, hehe...(inilah yang menjadi bahan ledek meledek nantinya). Hingga pada akhirnya sampailah Tim pada Pitstop I yang telah ditentukan di Gladak Perak Candipuro. Ini merupakan gladak peninggalan Belanda dengan ketinggian mencapai 70 meter. sejenak kamiberhenti untuk rehat gaes, nih fotonya wkwkw

Pitstop I (gladak Perak) baru
Setelah melepas lelah di Gladak Perak baru, berpindah ke Jembatan lama ... cus
Gladak Perak Lama
Istirahat sekitar 15 menit, lumayanlah buat ngisi tenaga yang sempat terkuras, hehe. Kemudian dibawah komando Pak Ketum, kami mulai perjalanan lagi,, haduhh liat jalan aja udah bikin pusing, lah dalah disuruh ngontel lagi. Tapi dengan bekal semangat yang masih tersisa ditambah iming2 pemandangan tiada tara, perjalanan pun dilanjutkan,, go go go...
Hingga lewatlah kami di piket nol, rehat sekitar 10 menit, luanjot lagii
Goa tetes... lanjutttttt...............................
Nah, sampai di gapura perbatasan Kabupaten Lumajang-Malang. disisi sebelah kiri terdapat jalan setapak yang masih bisa dilalui sepeda Gunung. Namun sebelum berlanjut, Tim melaksanakan sarapan pagi ditepi jalan raya. Makan nasi bungkus yang syarat gizi, haha
Kemudian berlanjut menelusur jalan makadam hingga menemukan aliran sungai yang nantinya bermuara di Air Terjun yang sedang kami tuju. Setelah melewati Jalan itu, kami harus rela dan siap nyebur kesungai dengan sepeda yang tim tunggangi. Adakalanya sepeda harus digotong karena jalur sungai yang tidak mungkin dilewati sepeda.
Nggotong sepeda, salah satu rintangan yang ditempuh
 Uyeaaaaaaahhhh,,, dannnn sampailah.....
Pemandangannya memang indah banget, waktu kami kesini, lokasi ini belum dibuka dan masih belum banyak penduduk yang tahu sehingga dari atas maupun dari bawah terlihat suepi.
Dan hingga pada kemudian hari kami bisa sampai di bagian bawah air terjun dengan bergabung sama sama Tim Bappeda Kab. Lumajang.

sampailah betaaaa -_-
Tim


Personal

Tim again

Jalan menuju bawah air terjun

Dari sisi aman

Hiburan di perjalanan


Jumat, 29 Mei 2015

TEH KERTOWONO

BER'TENGGER' DI SISI TENGGER


Masih berkutat di "pelataran" Kabupaten Lumajang. Yah, kali ini mencoba menjelajah sisi Tenggara Kota Pisang. PTPN XII KERTOWONO. ada yang pernah denger nama ini? hehe mungkin masih sedikit yang tahu tentang Perkebunan Teh yang teletak di sisi barat Kabupaten Lumajang ini, kalaupun ada yang tahu mungkin sebatas tahu namanya tanpa pernah menjelajah pemandangan yang bersemayam di dalamnya. Mungkin ini bukan pengalaman pertama menjelajah jalanan makadam di sepanjang perkebunan Teh Kertowono di Kecamatan Gucialit. 

Bagaimana menuju ke Kebun Teh Kertowono?
Yak, yang paling rasional adalah menggunakan kendaraan pribadi, berupa motor ataupun kendaraan roda 4 kelas off road. Mengapa harus kendaraan pribadi? karena kendaraan angkutan umum hanya beroprasi samapi Pasar Gucialit yang terletak di sisi bawah perkebunan. Untuk masalah jalannya tidak terlalu sulit, cukup mengikuti jalan Lumajang-Gucialit. Kemudian setelah sampai di komplek perkebunan, kita akan mulai dengan perjalanan bergelombang, hehe. Ya, bergelombang karena udah mulai memasuki jalanan makadam (*jalanan tanah dan bebatuan. 
Jalan inilah yang akan kita lalui sembari menikmati pemandangan dan udara segar beraroma Teh khas perkebunan Kertowono. Sepanjang perjalanan kita ga akan bertemu dengan pemukiman guys, ini berbeda dengan perkebunan lain seperti di Jawa Barat ataupun di Kayu Aro Kerinci (kebetulan pernah kesana hehe).


Apa bagusnya??
buat temen temen pecinta off road dan petualang sejati, sensasi jalanan makadam yang sedikit curam dibalut dengan tanaman semak yang disebut 'tea' disamping kanan kiri dan depan belakang bakal bikin betah deh. Selain jalanan yang memicu adrenalin tentunya, mata kita bakal di manjakan dengan lekukan lekukan bukit teh yang indah, apalagi pas cuaca cerah dan musim petik teh, bakal ngrasa kayak lagi main FTV :D
Lanjut ya, setelah sejam perjalanan dari pintu masuk perkebunan kita bakal sampe di afdeling Sukosari, ini bahasa Belanda yang artinya Divisi Sukosari. Nah disinilah akan kita temui pemukiman lengkap dengan tempat peribadatannya. Jadi Avdeling Sukosari ini ceritanya adalah pemukiman para pemetik teh. Suhu udara disini lumayan dingin, yaa kalo pasangan suami istri tinggal disini hiburannya kayanya cuma 1 aja deh :D
Lanjut, dari Sukosari kita akan dihadapkan pada dua jalan -jalan kebenaran dan jalan kebaikan- hahaha.
jadi nanti ada pertigaan, yang kalau kita tempuh jalan yang lurus kita akan ke surga desa Sombo yang merupakan jajaran desa terluar dari Kabupaten Lumajang. Konon katanya desa ini bagus beudd dikala senja ataupun pagi hari, yang daripadanya akan nampak keindahan Kab. Lumajang dari ketinggian sekian sekian dpL


pada pilihan kedua, yaitu jalan kearah kiri, jalan ini menuju ke neraka Desa Kulon Gunung. Desa inilah yang kemarin kami kunjungi. Merupakan Bagian dari Kabupaten Probolinggo, lah kok bisa?? ya ternyata kalo kita jalan lewat Perkebunan ini, jujukannya adalah Kab. Probolinggo yang notabene terletak di sebelah barat Kab. Banyuwangi. Kurang ada yang spesial disini, namun mungkin ada sesuatu tersimpan pada budayanya yang belum sempat kami eksplore, next time kali ya, soalnya udah kesorean

oiya, sedikit pengetahuan, bahwa di Sukosari pada masa itu pernah terdapat perkebunan Strawberry yang dikembanagkan oleh Orang Bandung, namun sekarang sudah tidak dikembangkan oleh masyarakat Sukosari, entah kenapa kami belum tahu hehe. OK selamat mencoba bertualang di PTPN XII Kertowono Lumajang, jangan lupa cicipi Teh Gajah asli Lumajang. (Y)


Kamis, 16 Oktober 2014

Trip to Jogja to love Indonesian Culture part III (Monumen Jogja Kembali)

Monumen Jogja Kembali/ Monjali merupakan salah satu dari banyak ikon wisata sejarah di Jogjakarta. Belakangan saya tahu bahwa Monjali dibangun pada 29 Juni 1985. Ya, sesuai dengan namanya monumen ini bertujuan mengenang peristiwa perebutan kembali kota Jogjakarta dari tangan Belanda yang kita tahu dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Monjali terletak di jalan lingkar utara (ring road utara), di Kelurahan Jongkang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Dengan posisi yang strategis ini Monjali dapat diakses dari manapun baik dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.
pintu utama Monjali
        Monumen Jogja Kembali ini berbentuk bangunan berbentuk kerucut yang menjulang tinggi (bagi temen2 yang sekolah di IPDN, dari jauh bangunan ini mirip dengan gerbang utama IPDN). Terdiri dari 3 (tiga lantai) yang dapat diakses dari 4 pintu utama. Pintu depan dan belakang mengakses langsung ke lantai dua, dan dua pintu disamping mengakses ke lantai satu. Sebelum memasuki gedung Monjali kita dapat melihat tembok besar tepat di depan pintu utama Monjali yang bertuliskan nama-nama pahlawan yang berjuang merebut Jogjakarta. Sedang di pintu masuk taman wisata dipajang merium bergerak yang dulu digunakan dalam serangan umum 1 Maret 1949.
nama-nama pahlawan serangan umum 1 maret 1949

batu pahat perewmian Monjali oleh Presiden Soeharto
          Memasuki Monjali, ada baiknya kita melewati pintu samping, jadi kita akan masuk dahulu ke lantai pertama. Di lantai 1 ini kita dapat menyaksikan berbagai peninggalan sejarah, mulai dari tandu Panglima Besar Jend. Sudirman, Meja kerja Sultan Hamengku Buwono, Meja kerja Sri Sultan Paku Alam, senjata zaman itu, lukisan serta diorama dapur umum dan banyak hal menarik dengan penjelasan historiknya. Pada lantai 1 terbagi dalam 4 ruang museum yang masing2 diberinama museum 1 hingga museum 4. Di ruangan ini kita akan benar2 merasakan nuansa historik dari peristiwa bersejarah di Jogja.
diorama pakaian pejuang di lantai 1
          Kemudian dengan menggunakan lift kita menuju ke lantai 2. Di lantai 2 berisi dengan puluhan diorama yang mengisahkan tentang direbutnya Kota Jogja oleh Belanda hingga berhasil direbut kembali oleh pejuang-pejuang kita. Diorama Presiden Soekarno yang berunding dengan Moh. Hatta dan Jenderal Sudirman di dalam ruangannya menjadi pemandangan yang menarik, seolah olah membawa kita larut kedalam pertemuan penting itu. Pengasingan Presiden Soekarno dan Bung Hatta ke luar Jawa hingga Perjanjian roem roeyen disajikan dengan nuansa yang sangat bernuansa sejarah, semua dibuat seolah olah asli. 
diorama suasana perundingan di ruang Presiden Soekarno
     Selepas berkeliling di lantai dua akan semakin terasa nuansa heroik yang membuat kita seolah olah hanyut dalam perjuangan perebutan kembali Kota Jogjakarta. Serangan umumnya dipimpin oleh Letkol Soeharto. Selanjutnya kita menuju kelantai 3, aksesnya bisa dengan lift bisa juga dengan mendaki anak tangga. Dilantai tiga merupakan ruang perenungan dan ruang berdoa untuk para pahlawan. Sumpah, suasananya bikin merinding. Dalam ruang ini hanya berisi satu tiang bendera merah putih yang tepat diatasnya adalah sumber cahaya dari luar, kesannya keren banget. Disamping kanan kiri adalah pahatan kepalan tangan pejuang di sebelah kiri dan tangan yang memegang pena di sisi sebelah kanan. Sedangkan tepat diujung berisi pesan yang ditulis di atas keramik. Disini kita diberi kesempatan untuk merenung setelah melihat dan menyaksikan perjuangan pahlawan di lantai 1 dan 2. Ini ruangannya cocok banget buat merenung, bisa nangis kalo daritadi bener2 menghayati perjuangan para pahlawan kita. Membuat kita berfikir untuk berbuat lebih banyak demi Indonesia dan demi pahlawan2 kita tentunya. keren.
tiang bendera di ruang perenungan
         Kawasan Monjali sendiri disamping wisata sejarah juga menawarkan keindahan lampion-lampion yang ramai di malam hari. Lebih dikenal sebagai taman Pelangi. Tapi kalau kita kesananya malam, kita ga bisa akses ke gedung monumen, hanya untuk kongkow dan nikmatin jajanan aja. Oiya, akses ke monumen untuk siang hari cuma Rp. 10.000,-, ini ga ada apa2nya dengan sejarah yang disajikan. ga bakal nyesel deh kesini.

Rabu, 15 Oktober 2014

Trip to Jogja to love Indonesian Culture part II (Prambanan)

tiket masuk Prambanan Temple

Heh hoh... di Part I  kita ngomongin seputaran Keraton alias ngomongin masalah zaman kerajaan di indonesia (Negeri yang indah ini reg.) Nah, sekarang kita lanjut <tepatnya mundur> ke zaman megalitikum, tempat yang cocok adalah Candi Prambanan yang merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia. 
candi yang berisi kendaraan Dewa Brahma
Prambanan merupakan kompleks candi yang sangat luas di D.I. Yogyakarta. Candi yang ditampilkan diatas adalah kelompok candi Rorojonggrang. Di dalam kawasan wisata ini khususnya di wilayah belakang masih terdapat beberapa candi lagi seperti candi Sewu yang terkenal dengan legenda Rorojonggrang, candi Bubrah dan beberapa candi kecil. Untuk masuk kawasan wisata candi ini kita harus membayar senilai Rp. 35.000,- harga yang murah untuk berbagai macam wisata yang disediakan. Letak kompleks candi ini sendiri dari pusat kota Jogjakarta sekitar 30 menit dapat ditempuh dengan kendaraan umum karena letaknya di jalan lintas Jogja-Solo.
relief candi
      Panorama yang ditampilkan di tempat ini sangat Elegan, candi prambanan merupakan candi yang ditetapkan sebagai World heritage (Warisan Dunia) oleh UNESCO. Ketika berada di area candi Prambanan, ada hal lain yang saya rasakan selain rasa kagum akan keindahannya. Besarnya batu-batu yang disusun bertumpuk sampai setinggi 47 meter (paling tinggi) untuk candi Siwagrha (Rumah Siwa) dan. Bayangin aja, pada zaman segitu manusia udah bisa buat patung batu setinggi 3 meter dan nyusun batu kotak-kotak segedhe itu sampe ketinggian 47 meter tanpa LEM. Jadi sebenarnya orang-orang Indonesia pada dulunya adalah orang-orang hebat dengan kebudayaan yang sangat maju bahkan tempat seperti Machu Pichu di Peru pun di Indonesia telah ditemukan (baca Gunung Padang, Cianjur).
keren kan epic nya
       Ketika awal ditemukan sebenarnya candi Prambanan dalam keadaan roboh yang diperkirakan karena gempa bumi, dan berhasil di pugar oleh para Arkeolog. Di belakang candi Prambanan, kita akan menjumpai taman dan persewaan sepeda untuk berkeliling kompleks candi (maklum, luas banget, cape kalo jalan kaki). Sewa sepeda cukup dengan Rp. 10.000,- dan Rp20.000,- untuk sepeda dobel. Dengan sepeda kita bisa menuju candi Sewu dan candi Bubrah.
Patung Wisnu (kalo ga kliru)

       Disebelah tengah terdapat bangunan dengan desain klasik yang ternyata adalah Museum Prambanan. Dimuseum ini kita akan mendapati berbagai patung bagian dari candi Prambanan yang memang sengaja di tempatkan dimuseum untuk edukasi. Patung dewa Siwa setinggi 3 meter yang merupakan penghuni utama candi Prambanan disimpan ditempat ini. Fosil kepala kerbau (bekas sesaji), uang zaman itu, berbagai peralatan dari emas, foto kisah prambanan dan lain sebagainya. POkoknya edukatif banget di dalam ruangan ini. Ada juga ruang audio visual yang menggambarkan cerita pewayangan terkait asal-usul candi. Wisata disini ga bakal nyesel deh, tempatnya ga kampungan, terus edukatif banget. Ditambah kalo kita mau sedikit merenung tentang sejarah di tempat ini, lu lu orang bakal makin cinta dan ga rela Indonesia dibilang kalah dengan negara lain, itu bener!!! dan Indpnesia ga bisa dibandingkan dengan negara-negara ecek-ecek yang sejarahnya gitu gitu aja, kita adalah bangsa besar kawan, mari bentangkan sayap Indonesia!!!

Trip to Jogja to love Indonesian Culture part I (Keraton-Rumah Batik)

INDONESIA itu, , , , ,

yup, silahkan diisi,,,
Ini adalah perjalanan yang semakin menggugah hati saya, ya, sangat menggugah. -YOGYAKARTA- mungkin sempat penasaran kenapa daerah ini disebut daerah istimewa. Tentunya jawabannya karena daerah ini mempunyai budaya yang tetap bertahan hingga kini, namun apa cuma karena itu? berbekal rasa penasaran yang lama saya pendam (ciee..) saya bulatkan tekad untuk harus mengunjungi tempat ini, hingga akhirnya kesempatan itu datang dengan segala biayanya,, haha (lol)
Dirangkaikan dengan Dinas Luar atas perintah kantor dan dengan panduan seorang teman sebut saja Gombes, perjalanan saya untuk mengenal lebih jauh Yogya dan mencintai lebih dalam Indonesia akhirnya dimulai. Sampai di Jogja, hal pertama yang saya lakukan :
  1. Menulis semua tempat wisata (baik alam maupun budaya) dalam satu daftar
  2. Merangkai rute (dengan bantuan google map
  3. Menetapkan prioritas tempat mana yang mesti didahulukan (mengingat keberadaan saya di Jogja cuma sehari semalem)
  4. Menjalankan misi sesuai dengan rencana (haha) :D
Setelah lama mikir, dengan pertimbangan Gombes sebagai guide dan google map sebagai informan jarak tempuh, saya menetapka opsi seperti ini ni
  • Keraton Jogjakarta + Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan'
  • Museum Kereta kerajaan
  • Candi Prambanan
  • Gunung Api Purba Nglanggeran
  • Tugu dan Malioboro
  • Monjali
  • Kuliner
Yup,let's start the journey...
      Sesuai dengan rencana, tempat pertama yang kami kunjungi di Jogja adalah keraton Jogja. kesan pertama melihat keraton, ga ada yang spesial sampe akhirnya kami masuk dengan tiket Rp. 10.000,-. Banyak wisatawan Domestik maupun Mancanegara di keraton ini. Awalnya saya kira keraton ini masih digunakan dan Sri Sultan ada di dalam, ternyata yang kami masuki adalah Pendopo Keraton. Bangunan ini masih terawat dengan baik, beberapa gedung dimanfaatkan sebagai museum kerajaan. Isinya ya tentang foto-foto Sultan, Gamelan, Diorama tarian-tarian kesultanan, ayam peliharaan Sultan, dan berbagai benda sebagai kenangan sejarah keraton.
patung abdi dalem/pekerja keraton
      Dengan menikmati isi dari bangunan pendopo keraton ini, akan memberikan makna bagi kita betapa agungnya kehidupan keraton dan kerajaan-kerajaan zaman dahulu. Masyarakat sangat menghargai akan keberadaan Sultan, mereka menghargai pemimpinnya, bandingkan dengan keadaan Indonesia sekarang, pemimpin sangat tidak mempunyai wibawa dimata masyarakat, bukan karena pemimpinnya, tapi karena masyarakatnya yang mudah menilai dan pandai berkomentar *point 1
        Selesai melihat-lihat isi pendopo keraton, kita bisa menggunakan jasa becak yang berjajar di depan gerbang pendopo untuk menuju Museum Kereta, Pusat Pembuatan Batik, Pusat Produksi kaos dagadu, dan Pusat oleh2 Pia khas Jogja hanya dengan Rp. 10.000,-. Sebenarnya tempat-tempat tersebut letaknya berdekatan, namun dengan menggunakan becak, semakin menambah syahdunya jalan-jalan di kota Jogja,, :D 
selfie dalam becak, hoho
Memasuki museum Kereta, kita akan disuguhi sejumlah kira-kira 22 unit. Kereta ini terdiri dari berbagai macam kegunaan. Kereta-kereta ini merupakan warisan dari Sultan HB I sampai Sultan yang sekarang, dan seiring perkembangan zaman, kereta sudah berganti dengan mobil. Namun demikian, dalam setiap acara2 Kesultanan Kereta ini tetap digunakan. Ada kereta untuk mengangkut penari-penari Keraton, Kereta untuk mengangkut jenazah Sultan, untuk acara Pernikahan Putri Keraton, dan masih banyak lagi kegunaan yang lain. Dan hebatnya lagi, semua kereta tadi berfungsi dengan baik. Oiya, untuk dapat masuk ke dalam museum Kereta, kita hanya butuh merogoh kocek senilai Rp. 5.000,-, murah kan untuk dapat menikmati kereta sakral sultan,, hehe
ruang kereta

kereta yang mengangkut jenazah Sultan HB IX

miniatur kuda penarik kereta

kereta :lupa namanya :D

         Selanjutnya, tetap dengan becak yang tadi (yang setia nunggu daritadi yang kita bayar 10rb itu

Senin, 06 Oktober 2014

off road to B-29

PESONA B-29
(Solo touring at Idul Adha moment)

Huh hah, finally. Luar biasa banget senengnya+capeknya. Ini adalah perjalanan kedua saya mencoba menginjakkan kaki di puncak B-29 setelah sebelumnya gagal pada bulan Januari lalu. baca#puncak b-29.  Selayaknya orang yang haus akan keindahan alam, kegagalan itu menjadi pembakar hasrat untuk harus mencapai puncak B-29 ini. Setelah berbulan-bulan menanti momen ini, akhirnya hari minggu tgl 5 Oktober kemarin ditemani motor Monstrec (trail pinjeman pakde) dan seekor manusia bernama Abdi, kami berdua dapat mencapai puncak B-29 yang akhir2 ini lagi booming di kalangan penikmat wisata alam dan off road. Tulisan sodara Veri Puji baca disini selaku rekan saya memberi sedikit gambaran tentang perjalanan kesana.

Berangkat dari rumah sekitar pukul 09.00 WIB kami berbekal lontong (nasi gulung daun pisang) kebetulan pas momen Idul Adha lengkap dengan sayur lodeh dan beberapa potong ayam+telur sebagai bekal. Berbekal pengetahuan bulan Januari, kami pikir jalan menuju kawasan di Desa Argosari tersebut tidak banyak berubah, berliku dan menanjak namun tidak memberi masalah, apalagi kali ini motor yang kami gunakan adalah jenis Trial off road, jadi memang sudah siap dengan kondisi jalan yang mungkin terbilang sulit. Di kawasan Senduro sendiri sudah sangat kenamaan dengan berbagai wisaa alamnya mulai dari gunug Bromo, Pendakian Semeru, Ranu-ranu dan Pura Agung. Untuk menuju wisata di atas awan*nama lain B-29, kita akan melewati jalan yang berbeda ketika manuju ke Ranu Pani atau Pendakian Semeru. Jalan yang diambil adalah jalan lurus menuju Pura Mandhara Giri.

dari sinilah perjalan terasa dimulai, pertama-tama kita melewati Pura Agung dan selanjutnya memasuki wilayah Desa Kandang Tepus. di Desa inilah susu sapi berkualitas untuk merk Nestle dihasilkan. Melewati Desa Kandang tepus kita akan bertemu pertigaan yang keduanya nanti bermuara pada jalan yang sama menuju B-29. Saran saya temen2 sebaiknya mengambil jalan yang lurus (tidak usah belok kanan) karena jalan yang lurus kondisinya baik, tidak rusak seperti kalo kita ambil jalan ke arah kanan. Nanti temen2 akan menjumpai pasar sayur, yang kemudian ambil arah ke kiri.

Sekitar 4-5 kilo kondisi jalan dapat dikatan baik. Sedikit-demi sedikit pesona alam pegunungan akan terasa ketika temen2 mendekati pintu masuk desa Argosari. Di sebelah kanan dan kiri kita adalah hutan dan tanah yang di kelola petani sayur setempat. Tanah pertanian ini terbilang ekstrim dengan kemiringan yang sangat terjal. Perjalanan dilanjutkan sampai menemui pertigaan Desa Argosari. dalam tulisan Sodara Very Puji *baca disini kita akan mendapat rekomendasi memilih jalan yang mengarah ke kanan, ini dengan pertimbangan bahwa jalan tersebut lebih landai dan kondisinya yang beraspal, cocok untuk temen2 yang suka jalan nyaman.

Namun jika temen2 membawa kendaraan off road seperti yang saya gunakan, pilihan yang direkomendasikan adalah -jalan lurus-. Jalan ini sangat terjal, akan tetapi lebih dekat dibanding jalan yang pertama. Kemiringan jalan mencapai lebih dari 60 derajat. Disamping itu kondisi jalan ini untuk musim kemarau seperti sekarang sangat berdeb karena tidak beraspal, sedikit jalan yang di lapisi batu untuk mengeraskan jalan, sedikit lainnya dibeton namun sekitar 80% adalah jalan tanah yang berdebu tebal dan pasti sangat licin dikala musim hujan. Disepanjang jalan yang menanjak di daerah ini, terdapat puluhan tukang ojek yang siap mengantar temen2 apabila ditengah jalan kendaraan temen2 mendapat masalah. Tenang, untuk bisa menggunakan jasa -Tukang Ojek- disini, temen2 hanya butuhn merogoh kocek sebesar Rp. 70.000,- untuk perjalanan pulang pergi (PP). Itu saya rasa harga yang cukup murah mengingat jarak dan kondisi jalan yang sangat unrecommended bagi kendaraan standar. Bahkan jika mau dihitung-hitung, mending pake jasa ojek 70rb ketimbang kita mesti servis motor beratus ratus ribu sepulang liburan kesana hehe. Bagi temen2 yang menggunakan kendaraan roda 4, nanti bisa diparkir di rumah warga kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki atau menggunakan jasa ojek, karena kendaraan roda 4 tidak bisa memasuki jalan menuju puncak B-29.

Memasuki jalan yang dipenuhi tukang ojek, disinilah surganya temen2 off roader tentunya. Kondisi jalan sangat mengerikan dilengkapi dengan tebaran debu2 halus yang sangat tebal. Panjang jalanan

Jumat, 03 Januari 2014

Dari Papuma hingga Puncak B29
(mengiringi peralihan tahun dari dua sisi yang berbeda)
Happy New year 2014 guys,,,,,,,,,,
Ya, selamat menginjak tahun baru 2014 semua . Sekarang kita lagi menikmati momen pergantian tahun, dari tahun 2013 ke tahun 2014. Ini berarti posting pertama saya di tahun 2014. Berbicara tentang tahun baru, jelas tidak bisa lepas dari bunyi terompet, knalpot motor, dan riuh ramai masyarakat merayakan pergantian tahun. Jauh berbeda dengan yang saya dan tiga teman saya alami. Kami merayakan malam tahun baru dengan tidur nyenyak di rumah keluarga salah satu teman saya, sebut saja si Fery.
Yap, hari itu tanggal 31 Desember 2013, saya, Dimas (tata), Fery, dan Gombes berkunjung ke salah satu pantai yang cukup menawan di Kabupaten Jember yaitu pantai PAPUMA (yang kemudian saya tahu kepanjangan dari kata Pasir Putih Malikan). Ini bukan bercerita tentang perjalanan kami, tetapi kita akan berbicara tentang keindahan pantai ini. Papuma merupakan sebuah tanjung yang terletak disebelah selatan pulau jawa, tepatnya di Kecamatan Ambulu Jember jadi masih merupakan Samudera Hindia.
Pantai ini boleh dikatakan tidak kalah dengan jajaran pantai indah yang berada di Pulau Dewata, kebersihannya pun masih terjaga. Yang membuat pantai ini terlihat sedikit berbeda adalah adanya batu cadas besar yang boleh kita sebut pulau kecil yang berada di daerah laut dekat pantai. Ketika pantai surut, temen2 bisa berjalan ke pulau2 ini dengan berjalan kaki melewati bebatuan kecil di sekitar pantai. Alternative lain, kita bisa kesana dengan menyewa perahu. Kalau sekedar ingin berenang dan berfoto ria, pantai ini bukan tempat yang salah. Pantai Papuma ini dikelilingi oleh bukit, jadi panoramanya dijamin mantap banget deh .
Selain itu, dipantai ini terdapat tebing yang tepat berdiri di bibir pantai. Diatas tebing ini terdapat suatu pondokan (sama kaya di penanjakan2 bagi yang perbah kesana) untuk melihat suasana laut dari atas. Pemandangannya indah banget, karena kita bisa melihat lalut hingga jarak yang lumayan jauh. Sekedar informasi, pantai ini terletak di sebelah pantai Watu Ulo, salah satu pasir putih yang sangay indah di Kabupaten Jember. Saya dan temen2 kemarin sempat berenang dan berfoto hingga 3 jam-an, ga kerasa saking indahnya, hehe. Seandainya disini dilengkapi dengan banana boat atau flying fish, bah bisa deh nyaingin pantai di Bali, haha. Perjalanan akhir tahun kami di 0 mdpl (meter diatas permukaan laut)
Habis dari pantai kami berniat melanjutkan perjalanan ke pegunungan tengger, tepatnya di puncak B29. Dari sini temen2 bisa melihat kegagahan Gunung Bromo yang bersemayam di tengah lautan pasir. Ditengah perjalanan tenyata hujan turun, dan kami terpaksa berteduh dirumah saudaranya si Fery. Diluar perkiraan, gerimis ditahun baru itu ternyata tak kunjung reda hingga akhirnya sekitar pukul 21.00 kami semua tertidur pulas diruang tamu yang ternyata rumah Purna XIII. Hujan reda sekitar pukul setengah 12 malam, kami bertiga yang notabene ga terlalu suka keramaian memutuskan untuktetap tidur di malam pergantian tahun itu. Esoknya setelah sarapan dan mengobrol sedikit dengan sang purna, kami melanjutkan perjalanan munuju pegunungan tengger, puncak B 29. Our journey will begin.

Sesuai perkiraan perjalanan menuju tempat tujuan kami perkirakan sekitar 3 jam. Tempat tujuannya adalah desa Argosari Kecamatan Senduro, tempat ini penduduknya adalah suku tengger yang berbahasa Jawa. Di daerah ini terdapat perkebunan kubis, wortel, bawang pre, dan kentang. Awalnya perjalanan kami mulus2 aja, namun ditengah perjalanan turun hujan. Setelah sejenak berteduh kami melanjutkan perjalanan dengan tekad yang sudah bulat :D. desa Argosari sendiri terkenal dengan nama Kawasan Wisata diatas Awan. Nama yang tidak berlebihan karena selama perjalanan kita merasa berada di dalam awan, terutama jika cuaca hujan maka jarak pandang bisa jadi hanya 5 meter selebihnya adalah awan putih.
Kami sempat beristirahat sejenak sambil menikmati bakso yang dijual di Desa ini. Perjalanan kemudian berlanjut dan sekarang mulai memasuki daerah yang jalannya sedikit rusak, jadi kami sedikit kesulitan melalui jalanan ini karena licin. Selesai melewati jalanan aspal, selanjutnya adalah jalan macadam namun sedikit lebih aman dibanding jalan bebatuan. Puncak B 29 sendiri memiliki ketinggian sekitar 2900 mdpl, lebih tinggi dari gunung Bromo. Pemandangan dari atas benar2 indah seolah olah kita berada di negeri atas awan :D beneran. Suhunya juga lumayan dingin banget. So, on 1th january 2014 we’re over the cloud on elevated place about 2900 mdpl.
Jadi kami mengakhiri tahun 2013 di nol meter vertical dan mengawali tahun 2014 di 2900 meter vertical. Begitupun harapan kita, semoga tahun 2014 ini kita terus maju menggapai cita2 tertinggi kita, amin. Pada akhirnya perjalanan kami ditutup dengan mampir beli susu sapi, ke Pura Mandhara Giri Semeru Agung dan makan tahu campur di rumah mbah Ni (mbah tercinta) .

Adma Teguh Pambudi
2 Januari 2014